Saturday, September 07, 2013

Positive thinking (plus sign)

Positive thinking = berfikiran positif

Hal ini sangat sering kita dengar, bahkan menjadi pembahasan yang biasa di kehidupan sehari hari.
Terdengar sangat mudah namun sulit dilakukan, apalagi jika anda yang tertimpa musibah dan positif thinking adalah hal yang paling terakhir yang ingin kita lakukan.

Saya mulai tergelitik untuk membahas positif thinking dikarenakan salah satu teman lama saya bertanya di facebook,
"Gimana caranya menjadi orang yang positive thinking, kaya saya selalu enjoy life. Ga pernah bete... Hanif penah ga bete?". Entahlah dari mana dia mempunyai ide menanyakan positif thinking kepada saya? Apakah saya selalu positif thinking? Atau saya hanya random people yang bisa menjawab pertanyaan itu. Terus terang. Dengan saya menuliskan ini sayapun sambil mencari jawaban, namun jika anda orang-orang yang tidak percaya dengan Tuhan anda bisa stop membaca sampai disini. Karena apa yang saya akan bahasa adalah sesuatu yang bukan menjadi wacana anda namun bukan juga untuk mendikte anda untuk menjalani hidup anda seperti apa?
So, lanjut?

Kebetulan saya membaca, surat al baqorah
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan
boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu;
Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.", Al-Baqarah ayat
216
Allah mengetahui tentang perkara yang tersirat dan tersurat. bagi yang dihadapi
...ujian yang diturunkan pasti ada hikmah dibaliknya, jd tetaplah bersabar Allah maha mengetahui.
Disini dijelaskan dengan positif bahwa jika segala sesuatu hal yang tertimpa dengan anda baik hal itu kita sukai atau kita benci itu adalah semua datangannya dengan keridhoan dan ke ikhlasan tuhan dan hanya tuhan lah yang mengetahui bahwa hal itulah yang terbaik buat kita. Semisalnya anda di berikan kesakitan, bearti tuhan memberikan hal ini supaya kita besyukur apabila kita sehat. Apabila kita kehilangan sesuatu, bearti tuhan memberilan cobaan ini jikalau mempunyai barang atau sesuatu diharapkan dapat di pelihara dengan baik.



baru - baru ini sebuah penelitian terhadap pola berfikir kita yang dapat dijelaskan dalam foto dibawah ini;

sumber: psychy.org



dari foto tersebut menjelaskan bahwa jikalau kita berfikir negatif adalah salah satu ciri- ciri sikap depresi yang memikirkan segala sesuatu yang terburuk (tidak akan terjadi), ini biasanya kita hadapi jikalau kita cemas, khawatir dkk. contohnya: jika suami blm pulang khawatir terjadi tabrakan ternyata tidak.

lain halnya jika suatu peristiwa di masa depan, seperti menerima bonus di tempat kerja, atau mencari pekerjaan baru. Sebuah asumsi yang realistis akan suatu tempat di kisaran netral, bahwa setidaknya kemungkinan peristiwa yang terjadi adalah sebagai kemungkinan sebagai kemungkinan bahwa hal itu tidak terjadi.

nah jika sikap realitis ditambah dengan keyakinan maka akan menghasilkan sikap positif . dari hal hal yang anda impikan atau idamkan dengan sikap positif semua akan terjadi maka hal tersebut akan terjadi.

mmm masuk akal sih, namun apakah akan sangat mudah dilakukan? belum tentu sangat mudah, sikap sikap yang akan kita lakukan itu akan terhambat dari sikap sikap yang dilakukan oleh orang orang disekeliling kita terutama orang2 terdekat seperti teman dekat, pacar, keluarga atau pasangan hidup anda. jika mereka memberikan sikap negatif maka anda pun akan sedikitnya terpengaruhi oleh hal itu.

jika kembali lagi pada pertanyaan teman lama saya, " bagaimana menjadi orang yang berfikiran positif?"
saya akan jawab ; Percayalah pada Allah SWT yang Maha pengasih dan Maha penyayang. 
jika kita masih miskin percayalah Allah akan memberikan kita jalan menjadi kaya. yang masih belum mendapatkan Jodoh percayakanlah bahwa Allah akan memberikan kita selalu yang terbaik buat menjadikan pasangan hidup kita dan seterusnya. 
jawaban yang klise memang, namun saya rasa inilah jawaban terbaik yang saya dapat sekarang.

terimakasih sudah sempat membaca notes saya (geer), walau saya liat 2 notes terakhir cuman ada 1 2 orang yang baca.. hahahaha....
mudah2an bermanfaat.
amien. 


ps: *comment dan saran dipersilahkan cacian makian silahkan dipendam saja... 



MT


Kita menilai diri dari apa yang kita pikir bisa kita lakukan, padahal orang lain menilai kita dari apa yang sudah kita lakukan. Untuk itu apabila anda berpikir bisa, segeralah lakukan
Bukan pertumbuhan yang lambat yang harus anda takuti. Akan tetapi anda harus lebih takut untuk tidak tumbuh sama sekali. Maka tumbuhkanlah diri anda dengan kecepatan apapun itu.
Jika anda sedang benar, jangan terlalu berani dan bila anda sedang takut, jangan terlalu takut. Karena keseimbangan sikap adalah penentu ketepatan perjalanan kesuksesan anda
Tugas kita bukanlah untuk berhasil. Tugas kita adalah untuk mencoba, karena didalam mencoba itulah kita menemukan dan belajar membangun kesempatan untuk berhasil
Anda hanya dekat dengan mereka yang anda sukai. Dan seringkali anda menghindari orang yang tidak tidak anda sukai, padahal dari dialah Anda akan mengenal sudut pandang yang baru
Orang-orang yang berhenti belajar akan menjadi pemilik masa lalu. Orang-orang yang masih terus belajar, akan menjadi pemilik masa depan
Tinggalkanlah kesenangan yang menghalangi pencapaian kecemerlangan hidup yang di idamkan. Dan berhati-hatilah, karena beberapa kesenangan adalah cara gembira menuju kegagalan
Jangan menolak perubahan hanya karena anda takut kehilangan yang telah dimiliki, karena dengannya anda merendahkan nilai yang bisa anda capai melalui perubahan itu
Anda tidak akan berhasil menjadi pribadi baru bila anda berkeras untuk mempertahankan cara-cara lama anda. Anda akan disebut baru, hanya bila cara-cara anda baru
Ketepatan sikap adalah dasar semua ketepatan. Tidak ada penghalang keberhasilan bila sikap anda tepat, dan tidak ada yang bisa menolong bila sikap anda salah
Orang lanjut usia yang berorientasi pada kesempatan adalah orang muda yang tidak pernah menua ; tetapi pemuda yang berorientasi pada keamanan, telah menua sejak muda
Hanya orang takut yang bisa berani, karena keberanian adalah melakukan sesuatu yang ditakutinya. Maka, bila merasa takut, anda akan punya kesempatan untuk bersikap berani
Kekuatan terbesar yang mampu mengalahkan stress adalah kemampuan memilih pikiran yang tepat. Anda akan menjadi lebih damai bila yang anda pikirkan adalah jalan keluar masalah.
Jangan pernah merobohkan pagar tanpa mengetahui mengapa didirikan. Jangan pernah mengabaikan tuntunan kebaikan tanpa mengetahui keburukan yang kemudian anda dapat
Seseorang yang menolak memperbarui cara-cara kerjanya yang tidak lagi menghasilkan, berlaku seperti orang yang terus memeras jerami untuk mendapatkan santan
Bila anda belum menemkan pekerjaan yang sesuai dengan bakat anda, bakatilah apapun pekerjaan anda sekarang. Anda akan tampil secemerlang yang berbakat
Kita lebih menghormati orang miskin yang berani daripada orang kaya yang penakut. Karena sebetulnya telah jelas perbedaan kualitas masa depan yang akan mereka capai
Jika kita hanya mengerjakan yang sudah kita ketahui, kapankah kita akan mendapat pengetahuan yang baru ? Melakukan yang belum kita ketahui adalah pintu menuju pengetahuan
Jangan hanya menghindari yang tidak mungkin. Dengan mencoba sesuatu yang tidak mungkin,anda akan bisa mencapai yang terbaik dari yang mungkin anda capai.
Salah satu pengkerdilan terkejam dalam hidup adalah membiarkan pikiran yang cemerlang menjadi budak bagi tubuh yang malas, yang mendahulukan istirahat sebelum lelah.
Bila anda mencari uang, anda akan dipaksa mengupayakan pelayanan yang terbaik.
Tetapi jika anda mengutamakan pelayanan yang baik, maka andalah yang akan dicari uang
Waktu ,mengubah semua hal, kecuali kita. Kita mungkin menua dengan berjalanannya waktu, tetapi belum tentu membijak. Kita-lah yang harus mengubah diri kita sendiri
Semua waktu adalah waktu yang tepat untuk melakukan sesuatu yang baik. Jangan menjadi orang tua yang masih melakukan sesuatu yang seharusnya dilakukan saat muda.
Tidak ada harga atas waktu, tapi waktu sangat berharga. Memilik waktu tidak menjadikan kita kaya, tetapi menggunakannya dengan baik adalah sumber dari semua kekayaan

untitled


Tuhan yang Mahabaik memberi kita ikan, tetapi kita harus mengail untuk mendapatkannya. Demikian juga Jika kamu terus menunggu waktu yang tepat, mungkin kamu tidak akan pernah mulai.

Mulailah sekarang… mulailah di mana kamu berada sekarang dengan apa adanya. Jangan pernah pikirkan kenapa kita memilih seseorang untuk dicintai, tapi sadarilah bahwa cintalah yang memilih kita untuk mencintainya

Perkawinan memang memiliki banyak kesusahan, tetapi kehidupan lajang tidak memiliki kesenangan. Buka mata kamu lebar-lebar sebelum menikah, dan biarkan mata kamu setengah terpejam sesudahnya. Menikahi wanita atau pria karena kecantikannya atau ketampanannya sama seperti membeli rumah karena lapisan catnya. Harta milik yang paling berharga bagi seorang pria di dunia ini adalah … hati seorang wanita.

Begitu juga Persahabatan, persahabatan adalah 1 jiwa dalam 2 raga Persahabatan sejati layaknya kesehatan, nilainya baru kita sadari setelah kita kehilanganNya.

Seorang sahabat adalah yang dapat mendengarkan lagu didalam hatiMu dan akan menyanyikan kembali tatkala kau lupa akan bait-baitnya. Sahabat adalah tangan Tuhan untuk menjaga Kita.

Rasa hormat tidak selalu membawa kepada persahabatan, tapi Jangan pernah menyesal untuk bertemu dengan orang lain… tapi menyesal-lah jika orang itu menyesal bertemu dengan kamu. Bertemanlah dengan orang yang suka membela kebenaran. Dialah hiasan dikala kamu senang dan perisai diwaktu kamu susah. Namun kamu tidak akan pernah memiliki seorang teman, jika kamu mengharapkan seseorang tanpa kesalahan.

Karena semua manusia itu baik kalau kamu bisa melihat kebaikannya dan menyenangkan kalau kamu bisa melihat keunikannya tapi semua manusia itu akan buruk dan membosankan kalau kamu tidak bisa melihat keduanya. Begitu juga Kebijakan, Kebijakan itu seperti cairan, kegunaannya terletak pada penerapan yang benar, orang pintar bisa gagal karena ia memikirkan terlalu banyak hal, sedangkan orang bodoh sering kali berhasil dengan melakukan tindakan tepat.

Dan Kebijakan sejati tidak datang dari pikiran kita saja, tetapi juga berdasarkan pada perasaan dan fakta. Tak seorang pun sempurna. Mereka yang mau belajar dari kesalahan adalah bijak. Menyedihkan melihat orang berkeras bahwa mereka benar meskipun terbukti salah.

Apa yang berada di belakang kita dan apa yang berada di depan kita adalah perkara kecil berbanding dengan apa yang berada di dalam kita.

Kamu tak bisa mengubah masa lalu…. tetapi dapat menghancurkan masa kini dengan mengkhawatirkan masa depan. Bila Kamu mengisi hati kamu …. dengan penyesalan untuk masa lalu dan kekhawatiran untuk masa depan, Kamu tak memiliki hari ini untuk kamu syukuri. Jika kamu berpikir tentang hari kemarin tanpa rasa penyesalan dan hari esok tanpa rasa takut, berarti kamu sudah berada dijalan yang benar menuju sukses.

I do not love you


I do not love you as if you were salt-rose, or topaz,
Or the arrow of carnations the fire shoots off.
I love you as certain dark things are to be loved,
in secret, between the shadow and the soul.

I love you as the plant that never blooms
but carries in itself the light of hidden flowers;
thanks to your love a certain solid fragrance,
risen from the earth, lives darkly in my body.

I love you without knowing how, or when, or from where.
I love you straightforwardly, without complexities or pride;
so I love you because I know no other way than this:
where I does not exist, nor you,
so close that your hand on my chest is my hand,
so close that your eyes close as I fall asleep.

organic versus non organic


'Organic' May Not Mean Healthier
British Study Finds no Better Nutrient Value Than in Conventionally Produced Foods
By Amanda Gardner
HealthDay Reporter
July 30, 2009

Food that beckons from the organic aisles of grocery stores may not be any better for you than what lines the rest of supermarket shelves.
Share
Research shows that eating organic food isn't necessarily better for you.

According to a British review of studies done over the past 50 years, organic and conventionally produced foods have about the same nutrient content, suggesting that neither is better in terms of health benefits.

"We did not find any important differences in nutrient content between organically and conventionally produced foods," said study author Alan Dangour, a registered public health nutritionist with the London School of Hygiene and Tropical Medicine.

Nonetheless, the researchers noted, organic foods continue to grow in popularity. In the United Kingdom, the market share for organic foods increased 22 percent from 2005 to 2007, they said.

Likewise, the market for organic foods in the United States has grown at about a 20 percent rate each year since 1990, reaching $13.8 billion in consumer sales in 2005, according to the Organic Trade Association. That represents 2.5 percent of total food sales in the country, the trade group noted.
Related
Fruit Pick Your Way to Paradise
No-Fat Meals and Other Diet Mistakes
Emeril's Organic Tomato, Spinach and Pinto Bean Salad a la Champion

"As a registered dietitian, it is good to see that a systematic review of the literature supports what has long been believed -- that the nutritional content of traditionally grown foods and organic foods are comparable," said Connie Diekman, director of university nutrition at Washington University in St. Louis and past president of the American Dietetic Association. "This report provides confirmation for consumers that if they choose conventionally grown foods or organic foods they will be meeting their nutritional needs."

The review zeroed in on 162 studies that dealt with the nutrient content of foods. Only 55 were of what the researchers considered to be "satisfactory quality" -- a strong indicator that, overall, the science on the subject is not up to snuff.

They found no noted differences between conventional and organic crops with regard to vitamin C, magnesium, calcium, potassium, zinc and copper content. Organic crops did have higher levels of phosphorus, and conventionally produced crops had higher levels of nitrogen.

No differences in nutrient content were indicated in the livestock studies, according to the review.

'Organic' May Not Mean Healthier
Food that beckons from the organic aisles of grocery stores may not be any better for you than what... Expand
Food that beckons from the organic aisles of grocery stores may not be any better for you than what lines the rest of supermarket shelves. According to a British review of studies done over the past 50 years, organic and conventionally produced foods have about the same nutrient content, suggesting that neither is better in terms of health benefits. Collapse


The Oregon-based Organic Center, which promotes organic food, conducted a similar review of the literature, said Charles Benbrook, chief scientist for the Center. That study yielded results similar to those in the British study, but it also found higher levels of healthy antioxidants and polyphenols in organic foods.

"Given that some of the most significant differences favoring organic foods were for key antioxidant nutrients that most Americans do not get enough of on most days, we concluded that the consumption of organic fruits and vegetables, in particular, offered significant health benefits, roughly equivalent to an additional serving of a moderately nutrient dense fruit or vegetable on an average day," Benbrook said.

Rarback indicated that the ability to get solid research on organic versus conventionally produced products is hampered by variations in the production process.

"There are so many variables," she said. "Where is something grown? Where is it shipped from? How long was it on the truck? There are going to be variables in terms of nutrition just from production methods."

More information

There's more on food and the nutrients in food at the United States Department of Agriculture.

SOURCES: Alan Dangour, registered public health nutritionist, London School of Hygiene and Tropical Medicine; Connie Diekman, M.Ed, R.D., L.D., director, university nutrition, Washington University, St. Louis, and past president, American Dietetic Association; Sheah Rarback, R.D., director, nutrition, Mailman Center for Child Development, University of Miami Miller School of Medicine, Miami; Charles Benbrook, Ph.D., chief scientist, The Organic Center, Enterprise, Oregon; September 2009 American Journal of Clinical Nutrition

Copyright 2009 HealthDayNews, Inc. All rights reserved. This material may not be published, broadcast, rewritten or redistributed.


another articles ...

Organics No Better Than Chemical/GMO/Sewage Sludge-Soaked "Food"?
digg Share this on Facebook Huffpost - stumble reddit del.ico.us ShareThis RSS
Read More: Cancer, Chemicals, Conventional Food, Eco, Elephant Journal, Elephantjournal.Com, Environmental, Farm, Farmer's Market, Farmers, Farmers' Market, Foodie, Green, Michael Pollan, Organic, Organics, Toxic, Toxins, Waylon Lewis, Whole Foods, Green News

Retweet this story!
Get Breaking News Alerts
never spam

*
Share
*
Print
*
Comments

uk study organic food health


Call me biased (and I am)...but it would seem to be common sense that regular food, real food -- i.e. food not pruned in a lab, or coated with chemicals, or doused in sewage sludge -- as is so-called "conventional" food -- would be cleaner, stronger, healthier. After all, take the food out of conventional food and all you're left with is a pile of chemicals, toxins, pesticides (poisons), sewage.

Want some chemicals for breakfast, Billy?

But no. A "ground-breaking" UK study just found that...surprise!...chemical-grown GMO-lovin' food shipped 1500 miles to your plate is just as good as local, organic, as-God-intended-it chow.

Read about it here.


Here's Whole Foods Market's response, via Facebook.


whole foods facebook organic


Our thoughts on the study on nutrition in organics in the American Journal of Clinical Nutrition.


We are optimistic that improved support of organic nutrition research -- including the increase of organic research funding in the 2008 Farm Bill, and the work of organizations like The Organic Center -- will show that nutritional advantages are another reason that organic agriculture is better than conventional.
Our shoppers choose organic food for many reasons -- to avoid synthetic pesticide residue, because it is often fresher and better tasting, and because organic farmers grow in earth-friendly ways that support the environment. Nutritional quality is one of many potential variables related to the advantages of organic food, but for us, there are already plenty of well-documented reasons to choose organic.The authors of this study examine the abstracts of 50 years of nutritional studies, looking for differences in nutrition between organic and non-organic foods, and conclude that there aren't any major differences. They don't rule out the possibility that there could be nutritional advantages, but acknowledge that none has been demonstrated so far. This isn't a surprising finding, since until very recently, there has been very little governmental or non-profit support of academic nutrition research focused directly on organic agriculture. In general, most nutrition research has not differentiated between organic and conventional crops.





And here's Stonyfield CEO Gary Hirshberg's response, on your friendly local Huff Post Green.




huff post green

As Stonyfield Farm President and CE-Yo, I believe that a new study dismissing the health benefits of organics does in fact mislead an increasingly savvy public by ignoring documented health and environmental benefits of organic.

The supreme irony is that this study is getting an enormous amount of media attention in part because of heightened consumer awareness of where our food comes from, thanks to the popularity of the documentary Food, Inc. and the discussion it's triggering across the country. Food, Inc. lays bare just how bankrupt and dangerous our current food system really is, and what we are allowed to know about it. The result is that consumers are looking more critically than ever at studies like this.

I agree with the Organic Center (TOC), a non-profit industry think tank, that the authors of the United Kingdom's Food Standards Agency (FSA) study used old data and flawed logic in reaching the conclusion that organic food is no healthier than conventional. TOC alleges that the UK study actually downplayed the positive findings which favored organic food and did not measure important nutrients such as antioxidants.

There are compelling studies that have shown organic foods higher in beneficial antioxidants, substances or nutrients in our foods known to slow or prevent heart disease, diabetes and some forms of cancer. A 2007 Newcastle University (UK) study concluded organic fruit and vegetables contained up to 40% more antioxidants than non-organic varieties; organic milk contained more than 60% more antioxidants and healthy fatty acids than conventional. A 2007 study by the University of California found organic tomatoes had elevated levels of up to 97% of two types of antioxidants.

Of greater concern to me is the fact the FSA ignores the environmental and related health benefits of an organic farming system that avoids the use of millions of pounds of toxic persistent pesticides, herbicides, fertilizer and other chemicals that leach into soil, water and air.

The man leading the FSA review actually stated the differences in nutrient content found between organic and conventionally produced food were "unlikely to be of any public health relevance." Tell that to the people who suffer a variety of health issues shown to be linked to pesticide use. Public health is exactly what's at stake here.

I believe studies like the FSA report need to look beyond the dinner plate and recognize that organic farming's avoidance of chemicals offers health benefits beyond nutrition...for the rest, go to Huff Post Green (you won't have to go far, I know).


And here's the Organic Trade Associations' rather weak-kneed response (to my mind). They accept many of the charges, and simply argue around them. Yes, organics are part of an ecosystem, and can't be measured on nutrients alone. But I'd like to see us argue on the points we've been attacked -- that organic food is in and of itself not measurably better than chemical-pesticide-sewage grown "conventional" food.


organic trade associationOrganic Trade Association: Organic products offer many benefits to consumers

Contact: Barbara Haumann
(413-376-1220; bhaumann@ota.com)

GREENFIELD, Mass. (July 31, 2009) -- In response to recent publicity concerning an article in-press for the next issue of The American Journal of Clinical Nutrition, the Organic Trade Association (OTA) reminds consumers that organic has a great story to tell.

"The broader question is about what is health and what is nutrition, and isn't it more than just nutrient density," said Marion Nestle, Paulette Goddard Professor of Nutrition, Food Studies and Public Health at New York University, in reference to recent buzz about the article, "Nutritional quality of organic foods: a systematic review." "Doesn't a food system that avoids the use of pesticides, synthetic growth hormones and antibiotics while building healthy soil and protecting natural resources promote health and nutrition? I certainly think so."

She added, "I'm surprised that investigators of this caliber would focus so narrowly on nutrient content. There is no reason to think that organic foods would have fewer nutrients than industrially produced foods, and there are many...for the rest, click here.

Here's one more:


daily greenI'm in London and today's tabloid Daily Express has a headline in type two inches high: "ORGANIC FOOD NO HEALTHIER." The article begins, "Eating organic food in the belief that it is good for your health is a waste of money, new research shows."

Really? This surprising statement is based on the conclusions of a lengthy report (pdf) just released from the British Food Standards Agency,Comparison of composition (nutrients and other substances) of organically and conventionally produced foodstuffs: a systematic review of the available literature. This report, done by excellent researchers at the prestigious London School of Hygiene & Tropical Medicine, looked at the results of 162 studies comparing organic to conventionally grown foods for their content of nutrients and other substances. Although it found higher amounts of some nutrients in organic crops, it found higher amounts of others in conventional crops, and no difference in others. On this basis, the report concludes:

There is no good evidence that increased dietary intake, of the nutrients identified in this review to be present in larger amounts in organically than in conventionally produced crops and livestock products, would be of benefit to individuals consuming a normal varied diet, and it is therefore unlikely that these differences in nutrient content are relevant to consumer health.


In a statement accompanying release of the report, the Food Standards Agency says:

The Agency supports consumer choice and is neither pro nor anti organic food. We recognise that there are many reasons why people choose to eat organic, such as animal welfare or environmental concerns. The Agency will continue to give consumers accurate information about their food based on the best available scientific evidence.


Fine, but do animal welfare and environmental concerns not matter? The authors of the report summarize their findings in a paper in theAmerican Journal of Clinical Nutrition. The paper concludes:

On the basis of a systematic review of studies of satisfactory quality, there is no evidence of a difference in nutrient quality between organically and conventionally produced foodstuffs. The small differences in nutrient content detected are biologically plausible and mostly relate to differences in production methods.


Oh? I thought that's what organic foods were about -- production methods: no antibiotics, hormones, pesticides, herbicides, chemical fertilizers, irradiation, genetic modification, or sewage sludge. I thought better production methods were the precise point of organic foods.

Read more here, at The Daily Green.

Here's a new one just in, via my friend Steve Hoffman, an organic/natural products expert, at The Organic Center:


"organic center"Letter from the Director

The Organic Center Challenges New Study Results; Defends the Nutritional Superiority of Organic Foods

An advance copy of a study appeared yesterday that will be published in the September edition of the American Journal of Clinical Nutrition. The published paper, "Nutritional Quality of Organic Foods: A Systematic Review," was written by a team led by Alan Dangour at the London School of Hygiene and Tropical Medicine. The study, commissioned by the U.K. Food Standards Agency (FSA), claims that there are no differences in nutritional quality between conventional and organic foods.

The Organic Center's chief scientist, Dr. Chuck Benbrook, has written a strong response questioning the methodology and challenging the findings of this study, and we wanted to let you know where you can access it, as you may be responding to media and other inquiries in this regard. Click here to see Dr. Benbrook's full response to this controversial study.



According to Dr. Benbrook, the U.K. research team reported finding statistically significant differences between organically and conventionally grown crops in only three of thirteen categories of nutrients. Significant differences cited by the team included nitrogen, which was higher in conventional crops, and phosphorus and titratable acids, both of which were higher in the organic crops. As most scientists regard elevated levels of nitrogen in food as a potential cancer-causing agent, this finding of higher nitrogen in conventional food favors organic crops, as do the other two differences.

Despite the fact that these three categories of nutrients favored organic foods, and none favored conventionally grown foods, the London-based team concluded that there are no nutritional differences between organically and conventionally grown crops.

However, a team of scientists convened by The Organic Center (TOC) carried out a similar, but more rigorous, review of the same literature. The TOC team analyzed published research just on plant-based foods. Results differ significantly from the more narrow FSA review and are reported in the study "New Evidence Confirms the Nutritional Superiority of Plant-Based Organic Foods," which is freely accessible on the TOC website (http://www.organic-center.org/science.nutri.php?action=view&report_id=126).

The TOC findings are similar for some of the nutrients analyzed by the FSA team, but differ significantly for two critical classes of nutrients of great importance in promoting human health -- total polyphenols, and total antioxidant content. The FSA team did not include total antioxidant capacity among the nutrients studied, and it found no differences in the phenolic content in 80 comparisons across 13 studies.

For more information, visit http://www.organic-center.org/science.nutri.php?action=view&report_id=157.

Perceraian


Akhir akhir ini banyak sekali perceraian yang terjadi dalam sebuah perkawinan atau sopannya kita sebut pernikahan. Makin banyaknya orang yang kita kenal sudah becerai atau anaknya si bapak b bercerai, tetangga kita yang dkt mesjid lah bercerai...dan jelas-jelas perceraian selebritis yang dijadikan konsumsi kita setiap harinya .Seakan akan yang terjadi adalah kita menikah untuk bercerai karena tingkat perceraian terhadap pernikahan itu sendiri. Bayangkan sekarang lebih banyak orang bercerai dari pada yang menggunakan telepon umum! :)) Hahaha ya mungkin selain Telepon umum jarang ditemui juga karena pihak telkom sudah merugi jika memasang telepon umum sekarang ini, dikarenakan hampir semua orang sudah mempunyai telepon jingjing eh telepon gengam. (laptop baru namanya komputer jingjing sama halnya dengan kantong keresek tas jingjing bedanya hanya di harganya dan belinya dimana... duh mulai melebar pembahasannya)

Ok!! balik lagi ke perceraian, klo kita tela’ah pernikahan. Mengapa kita menikah? Apakah dikarenakan paksaan usia, orang tua, pasangan, agama atau sekedar hobby semata ( ini ditujukan pada orang orang yang menikah lebih dari satu kali, tp ini dengan nada guyonan bukan sindiran :P). Nah itu dia! Kalau memang menikah itu merupakan suatu paksaan lalu mengapa menikah? Bukankah menikah itu adalah sesuatu yang dilaksanakan karena keihklasan, dilandasi oleh cinta, bertahtahkan kasihsayang, dirajut oleh kepedulian, dan perpedoman pada alquran dan hadist (bagi yang muslim). Di indonesia menurut pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, yang berbunyi : “Tujuan perkawinan adalah juga untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa”. jadi tujuan pernikahan itu harus kekal dan bahagia. jadi jikalau rumah tangga kita tidak bahagia apakah boleh bercerai?

Konon pernikahan itu adalah cinta suci, cinta suci adalah cinta yang diikat oleh tali perkawinan. Ah masa sih? Lalu kenapa ada perceraian?

Rasulullah SAW, bersabda ;“Yang halal yang paling dibenci Allah adalah Perceraian”. (HR. Abu Daud dan dinyatakan Shoheh oleh Al-Hakim)
Perceraian adalah perbuatan yang dibenci tuhan namun tidaklah dosa hukumnya dikarenakan halal.Jd klo diuraikan dengan bahasa saya sendiri, kadang ada perbuatan yg dibenci namun yang sifatnya itu tdklah dosa. Seperti halnya merokok ada yang benci rokok dan asapnya namun hal itu tidak dilarang agama. Tapi bukan bearti tuhan membenci perokok ya... Lol
Bagi orang yang melakukan perceraian tanpa alasan, Rasulullah SAW bersabda ;
“Apakah yang menyebabkan salah seorang kamu mempermainkan hukum Allah, ia mengatakan : Aku sesungguhnya telah mentalak (istriku) dan sungguh aku telah merujuknya” (HR. An-Nasai dan Ibnu Majah).
karena dalam hukum indonesia perceraian ada golongan golongan dalam perceraian. Secara umum mengenai putusnya hubungan perkawinan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan membagi sebab-sebab putusnya perkawinan ke dalam 3 (tiga) golongan, yaitu seperti yang tercantum dalam Pasal 38 yakni sebagai berikut :
a. karena kematian salah satu pihak;
b. perceraian; dan
c. atas putusan pengadilan.
Putusnya perkawinan karena perceraian dalam istilah ahli Fiqh disebut “talak” atau “furqah”. Arti dari talak ialah membuka ikatan, membatalkan perjanjian, sedangkan furqah artinya bercerai, yaitu lawan dari berkumpul. Kemudian kedua kata tersebut dipakai oleh ahli fiqh sebagai satu istilah, yang berarti perceraian antara suami istri.
Meskipun Islam tidak melarang perceraian, tetapi bukan berarti agama Islam menyukai terjadinya perceraian dalam suatu perkawinan. Dan perceraian-pun tidak boleh dilaksanakan setiap saat sebagaimana dikehendaki.

lalu jika anda yang sudah terlanjur bercerai apakah anda merasa dibenci oleh Allah? la tahzhan.... Jangan sedih! dapat dilihat lagi terhadap surat an-nisa “Jika keduanya bercerai, maka Allah akan memberi kecukupan kepada masing-masing dari limpahan karunia-Nya. Dan adalah Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Bijaksana.” (QS. 4:130).
Allah MAha Penyayang terhadap umatnya Dia akan tetap memberikan limpahan karunianya terhadap umatnya walaupun kita melakukan perbuatan yang dibencinya. THATS WHAT I CALLED UNCONDITIONAL LOVE!. cinta Allah tak bersyarat.

Jadi intinya apa sih?
HAhaha.... paling malas klo udah google sana sini menghubungkan dalil dalil yang ada dan saya harus membuat kesimpulan terhadap apa yang saya kaji. kalau saya boleh berpesan, kepada seluruh keluarga, kerabat, teman, sahabat dan semua yang membaca ini: sebelum menikah yakinlah apa yang kalian nikahi adalah cinta sejati kalian, cinta yang dimana apa yang haram jd halal, cuka jadi madu, duka jadi suka, karat jadi emas, debu jadi kayu, sakit jd sehat, letih jadi kuat, api jadi air, cinta dimana yang di berkati oleh Allah. cinta yang ga akan ada habisnya. cintailah dia segala kekurangannya terlebih kelebihannya. Insya Allah perceraian akan terhindari.

namun jikalau perceraian sudah terjadi, ini bukanlah sesuatu yg terhina atau ahkir dari dunia anda, masih ada harapan anda untuk memulai hidup baru anda masih ada harapan anda untuk menemukan pasangan hidup anda yang tidak ditemukan dengan mantan pasangan anda. jaminannya surat annisa 130 Tuhan akan tetap mengkaruniai anda seberapa berat dan derita yang anda sudah jalani. dan hadapi segala sesuatu dengan niat baik dan hal positif niscaya anda akan menjalani hidup yang lebih baik.

Yang berniat ingin bercerai atau dalam rangka perceraian, harap anda ingat Alasan- alasan anda untuk melakukan perceraian, apakah karena ini keegoisan semata? apakah ini hanya amarah semata? atau memang sudah pada batasnya seperti pasangan anda Gila (talaq mugoladoh), pasangan selingkuh, KDRT dan lain lain. ingat lah JANGAN bercerai jika tidak beralasan.

Penutup sekali lagi mudah2an tulisan ini bermanfaat bagi anda. mudah2an anda tetap setia pada pasangan anda dan dapat menghindari perceraian, namun jika memang itu sulit dihindari setidaknya kita sudah optimal berusaha.

*sekali lagi walau saya tau ini belum tentu ada yang baca comment dan saran dipersilahkan, cacian makian silahkan dipendam saja... WKKWKWKWWK

Kerja... You better WERK!


KERJA.

July 22, 2010 at 6:16pm
Kadang saya suka berfikir apakah yang kita lakukan untuk hidup kita itu sudah cukup maksimal, atau kah kita hanya ada dalam paradigma diri kita bahwasanya diri kita selalu melakukan yang terbaik. terbaik bagi orang lain atau terbaik untuk kita?

alasan mengapa saya menulis hal ini adalah rasa penasaran yang ada dalam diri saya untuk membandingkan mengapa orang itu sukses dan saya tidak? apa yang membedakan dia dan saya?apakah dengan bekerja keras kita akan sukses?
lalu mengapa orang yang tiap hari kerja banting tulang sampai malam itu bisa sukses?

kalau kita ingin kaji dalam Al qur’an, Al-Qur’an menyebut kerja dengan berbagai terminologi. Al-Qur’an menyebutnya sebagai “amalun”, terdapat tidak kurang dari 260 musytaqqat (derivatnya), mencakup pekerjaan lahiriah dan batiniah. Disebut “fi’lun” dalam sekitar 99 derivatnya, dengan konotasi pada pekerjaan lahiriah. Disebut dengan kata “shun’un”, tidak kurang dari 17 derivat, dengan penekanan makna pada pekerjaan yang menghasilkan keluaran (output) yang bersifat fisik. Disebut juga dengan kata “taqdimun”, dalam 16 derivatnya, yang mempunyai penekanan makna pada investasi untuk kebahagiaan hari esok.

Pekerjaan yang dicintai Allah SWT adalah yang berkualitas. Untuk menjelaskannya, Al Qur’an mempergunakan empat istilah: “Amal Shalih”, tak kurang dari 77 kali; ‘amal yang “Ihsan”, lebih dari 20 kali; ‘amal yang “Itqan”, disebut 1 kali; dan ”al-Birr”, disebut 6 kali. Pengungkapannya kadang dengan bahasa perintah, kadang dengan bahasa anjuran. Pada sisi lain, dijelaskan juga pekerjaan yang buruk dengan akibatnya yang buruk pula dalam beberapa istilah yang bervariasi. Sebagai contoh, disebutnya sebagai perbuatan syaitan (al-Maidah: 90, al-Qashash:15), perbuatan yang sia-sia (Ali Imran: 22, al-Furqaan: 23), pekerjaan yang bercampur dengan keburukan (at-Taubah:102), pekerjaan kamuflase yang nampak baik, tetapi isinya buruk (an-Naml:4, Fusshilat: 25).

Al-Qur’an sebagai pedoman kerja kebaikan, kerja ibadah, kerja taqwa atau amal shalih, memandang kerja sebagai kodrat hidup. Al-Qur’an menegaskan bahwa hidup ini untuk ibadah (adz-Dzariat: 56). Maka, kerja dengan sendirinya adalah ibadah, dan ibadah hanya dapat direalisasikan dengan kerja dalam segala manifestasinya (al-Hajj: 77-78, al-Baqarah:177).
Jika kerja adalah ibadah dan status hukum ibadah pada dasarnya adalah wajib, maka status hukum bekerja pada dasarnya juga wajib. Kewajiban ini pada dasarnya bersifat individual, atau fardhu ‘ain, yang tidak bisa diwakilkan kepada orang lain. Hal ini berhubungan langsung dengan pertanggung jawaban amal yang juga bersifat individual, dimana individulah yang kelak akan mempertanggung jawabkan amal masing-masing. Untuk pekerjaan yang langsung memasuki wilayah kepentingan umum, kewajiban menunaikannya bersifat kolektif atau sosial, yang disebut dengan fardhu kifayah, sehingga lebih menjamin terealisasikannya kepentingan umum tersebut. Namun, posisi individu dalam konteks kewajiban sosial ini tetap sentral. Setiap orang wajib memberikan kontribusi dan partisipasinya sesuai kapasitas masing-masing, dan tidak ada toleransi hingga tercapai tingkat kecukupan (kifayah) dalam ukuran kepentingan umum.
Syarat pokok agar setiap aktivitas kita bernilai ibadah ada dua, yaitu sebagai berikut.
Pertama, Ikhlas, yakni mempunyai motivasi yang benar, yaitu untuk berbuat hal yang baik yang berguna bagi kehidupan dan dibenarkan oleh agama. Dengan proyeksi atau tujuan akhir meraih mardhatillah (al-Baqarah:207 dan 265).
Kedua, shawab (benar), yaitu sepenuhnya sesuai dengan tuntunan yang diajarkan oleh agama melalui Rasulullah saw untuk pekerjaan ubudiyah (ibadah khusus), dan tidak bertentangan dengan suatu ketentuan agama dalam hal muamalat (ibadah umum). Ketentuan ini sesuai dengan pesan Al-Qur’an (Ali Imran: 31, al-Hasyr:10).
Ketika kita memilih pekerjaan, maka haruslah didasarkan pada pertimbangan moral, apakah pekerjaan itu baik (amal shalih) atau tidak. Islam memuliakan setiap pekerjaan yang baik, tanpa mendiskriminasikannya, apakah itu pekerjaan otak atau otot, pekerjaan halus atau kasar, yang penting dapat dipertanggungjawabkan secara moral di hadapan Allah. Pekerjaan itu haruslah tidak bertentangan dengan agama, berguna secara fitrah kemanusiaan untuk dirinya, dan memberi dampak positif secara sosial dan kultural bagi masyarakatnya. Karena itu, tangga seleksi dan skala prioritas dimulai dengan pekerjaan yang manfaatnya bersifat primer, kemudian yang mempunyai manfaat pendukung, dan terakhir yang bernilai guna sebagai pelengkap.

loh? mengapa saya jadi mengkajinya Al qur’an? hahaha
tapi ga ada salahnya bukan? bukannya saya munafik atau mencoba untuk mengajari anda.
namun saya ingin menghubungkan masalah dunia dan akhirat.

“Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Qur’an, dan Dia tidak membuat sesuatu yang tidak lurus di dalamnya. Sebagai bimbingan yang lurus, untuk memperingatkan (manusia) akan siksa yang pedih dari Allah dan memberi kabar gembira kepada orang-orang beriman, yang mengerjakan amal soleh, bahwa mereka akan mendapat balasan yang baik. Mereka (akan menikmati kehidupan sorga) kekal di dalamnya untuk selamanya”(al-Kahfi:1-3)
Al-Qur’an adalah pedoman bagi manusia yang ingin memilih jalan kebenaran daripada jalan kesesatan (al-Baqarah :185), pembimbing (guidance) untuk membina ketakwaan (al-Baqarah: 2). Namun, hidup yang taqwa bukan semata harapan atau angan-angan untuk meraih kebahagiaan, tetapi merupakan medan dan cara kerja yang sebaik-baiknya untuk merealisasikan kehidupan yang berjaya di dunia dan memperoleh balasan yang lebih baik lagi di akhirat (an-Nahl: 97).
Bekerja adalah kodrat hidup, baik kehidupan spiritual, intelektual, fisik biologis, maupun kehidupan individual dan sosial dalam berbagai bidang (al-Mulk: 2). Seseorang layak untuk mendapatkan predikat yang terpuji seperti potensial, aktif, dinamis, produktif atau profesional, semata-mata karena prestasi kerjanya. Karena itu, agar manusia benar-benar “hidup”, dalam kehidupan ini ia memerlukan ruh (spirit). Untuk ini, Al Qur’an diturunkan sebagai “ruhan min amrina”, yakni spirit hidup ciptaan Allah, sekaligus sebagai “nur” (cahaya) yang tak kunjung padam, agar aktivitas hidup manusia tidak tersesat (asy-Syura: 52).
itu hanya sebagian yang tersurat dalam Al Quran, namun apa yang yang menjadi sunah Rasul?
Rasulullah saw. melarang kita lemah dalam mencapai cita-cita, namun hendaknya kita optimis dalam usaha kita. Jiwa harus penuh kepercayaan kepada Allah agar apa yang kita cita-citakan tercapai disertai usaha yang benar-benar, tidak boleh malas-malasan dan berdiam diri tanpa usaha. Nabi saw. telah mengajarkan doa kepada kita antara lain, “Ya Allah, saya mohon perlindungan kepada-Mu dari lemah dan malas.” (H.R. Abu Dawud).

RASULULLAH saw. juga bersabda, “Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai daripada orang mukmin yang lemah dan pada masing-masingnya ada kelebihan. Cobalah kamu kepada apa yang bermanfaaat bagimu, mohonkanlah pertolongan kepada Allah dan janganlah kamu katakan, ‘Seandainya saya berbuat begini, maka begini’. Tetapi katakanlah, ‘Allah telah menakdirkannya, apa-apa yang dikehendaki oleh Allah maka diperbuatnya’, karena sesungguhnya kata-kata ’seandainya’ adalah mempekerjakan setan”. (H.R. Muslim).

disini ditekankan bahwasanya sebagai manusia kita sebagai manusia beragama. bahwasanya kita bisa menjauhkan diri dar sifat lemah dan malas. terus terang saya masih sering mempunyai sifat -sifat itu sifat yang tidak bisa hindari, terkadang saya suka malas untuk pergi kerja. atau lemah dalam menerima suatu perkerjaan yang baru yang belum saya pernah lakukan. sesuatu hal yang sangat lumrah dan manusiawi sekali. namun itulah manusia yang lemah terhadap ancaman terhadap pikiran sendiri yang cendrung negatif.

Hampir semua manusia normal memiliki dasar untuk meraih cita-cita. Akan tetapi seberapa kuat keinginan itu akan bisa kita lihat dari kesehariannya. Banyak yg ingin kaya, ingin pintar atau ingin terkenal tetapi tidak mau kerja keras atau tidak berbuat apa-apa yg menuju ke arah cita-cita itu. Padahal hukum alam jelas mengatakan bahwa “any achievement has to be earned”. Segala pencapaian harus melalui proses yg dihasilkan dari apa yg kita kerjakan, bukan dari apa yg kita impikan atau katakan saja. tidak ada yang tidak mungkin dalam dunia ini selama kita percaya, berusaha dan berdoa.

ada cerita seorang security di sebuah pom bensin, dia bertemu Ustad A yang amat terkenal di kotanya. dia bertanya pad ustad “pak ustad mengapa hidup saya kok ga berubah rubah ya pak ?udah lima tahun saya masih saja saya jadi security disini?”
lalu ustadnya bertanya “ kerjanya giat?” dia menjawab “GIAT pak ustad, saya sering lembur malahan pak!” lalu ustad bertanya lagi “sholatnya rajin?”
dia menjawab sedikit minder “ klo sholat saya usahakan pak setidaknya sehari satu kali pak saya sholat”, lalu ustad pun langsung menjawab “NAh itu dia! masalahnya sholatnya kurang, coba kamu giatkan lagi sholatnya wajibnya, syukur syukur ditambah sholat sunatnya”
dia langsung mengerutkan dahinya “ emang ada pengaruhnya ya pak ustad?”
“jelas ada! silahkan buktikan sendiri”
enam bulan kemudian pak ustad tanpa sengaja dia datang ke tempat pom bensin lagi, pak ustad sudah tidak ingat akan cerita security tersebut.
tak lama kemudian seorang berdasi menupuk pundak ustad tersebut.
“ pak ustad, masih ingat saya?”
“ siapa ya” jawab pak ustad
“saya dulu sekitar 5 - 6 bulan yang lalu bertanya pada pak ustad masalah pekerjaan” sahutnya
“ ya ampun, sekarang sudah berdasi ya security disini?” pak ustad bercanda
“pak ustad bisa saja, saya mau ucapkan terima kasih atas saran nya pas ustad atas pertanyaan saya dulu. setelah pak ustad pergi saya tak lama ambil air wudhu. dan sampai sekarang saya ga pernah lepas sholat lima waktu saya, tp terkadang saya lupa sholat sunah nya hanya sholat dhuha saja yang saya belum terlewatkan. semenjak saya sering sholat, hidup saya terasa lebih teratur dan lebih berbeda. setiap hari saya tidak datang terlambat karena saya bangun setiap pagi untuk sholat shubuh. saya pun lebih banyak tersenyum dari pada mengeluh di kerjaan saya. lalu atasan saya pun ternyata melihat perubahan drastis pada diri saya lalu saya diangkat jadi supervisor 4 bulan yang lalu. tp semuanya tidak berhenti disitu ternyata ada lowongan di bagian keuangan,lalu saya mendaftar dan ternyata saya diterima 1 minggu yang lalu saya menjadi pegawai keuangan sekarang dan setifikat sarjana saya bisa terpakai pak ustad.”
“alhamdulilah” pa ustad menjawabnya dengan tersenyum.

HAHAHAHAHAHA... ternyata ga terasa saya udah mengetik hampir 4 halaman... ternyata asyik juga mengetik (boong bgt)
ya intinya dari cerita tersebut bisa disimpulkan masing masing udah pada gede kan udah pake celana sendiri LOL, jika tulisan saya ini bermanfaat bagi anda “Alhamdulillah” jd tidak pun tidak apa-apa, toh bagi saya pun hal ini masih sangat sulit saya jalani krn sifat malas dan lemah yang masih ada dalam diri saya. tp setidaknya saya bisa berbagi tulisan ini dr berbagai sumber dari google.com. dan suatu hari ada yang kasih mail hanif! thanks bgt ya notes lo itu gw udah jd millioner sekarang di indonesia, nih 1m buat kamu!!
AMIIINNNNN hahahhaa..

*comment dan saran dipersilahkan cacian makian silahkan dipendam saja... HAHAHAHA